Kamis, 28 Oktober 2010

PENGERTIAN dan CARA TAUBAT NASHUHA

Taubat nashuha adalah kembalinya seorang hamba kepada Allah Ta'ala, tidak ada
sekutu bagi-Nya dari dosa yang pernah ia lakukan karena sengaja atau lupa
dengan kembali secara benar, ikhlas, percaya, dan berhukum dengan ketaatan yang
akan mengantarkan hamba tersebut kepada kedudukan para wali Allah yang bertakwa
serta menjauhkan antara ia dengan jalan-jalan syaitan.

WAJIBNYA TAUBAT NASHUHA
Ketahuilah wahai hamba yang bertaubat -semoga Allah memberikan taufiq kepadamu
untuk melakukan taubat yang akan menghapus dosa sebelumnya dan semoga Allah
membekalimu dengan takwa- bahwa taubat nashuha adalah fardhu 'ain atas setiap
muslim.

Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang berfirman:
"Artinya : …Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya
kamu beruntung." [An-Nuur: 31]
Dzat Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang juga berfirman
"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan
taubat yang semurni-murninya … ." [At-Tahriim : 8]
Allah Yang Maha Penyayang telah berfirman melalui lisan Nabi Syu’aib :
"Artinya : Dan mohon ampunlah kepada Rabb-mu, kemudian bertaubatlah kepada-Nya.
Sesungguhnya Rabb-ku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih." [Huud: 90]
Ayat-ayat yang mulia lagi tegas ini, sesuai dengan hadits-hadits yang mulia dan
shahih.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
íóÇÃóíøõåóÇ ÇáäøóÇÓõ ÊõæúÈõæúÇ Åöáóì Çááåö¡ ÝóÅöäöøí ÃóÊõæúÈõ Åöáóì Çááåö Ýöí
Çúáíóæúãö ãöÇÆóÉó ãóÑøóÉò.
“Wahai sekalian manusia bertaubatlah kalian kepada Allah, karena sesungguhnya
aku bertaubat kepada Allah seratus kali dalam sehari.”[1]
Karena itulah umat Islam -semoga Allah menambahkan kemuliaan kepada umat ini-
telah sepakat akan wajibnya melakukan taubat.
Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata dalam kitab al-Jaami’ li Ahkaamil Qur’aan
(V/90), “Umat telah sepakat bahwa taubat adalah kewajiban (fardhu) atas
orang-orang mukmin.”
Dalam kitab Mukhtashar Minhaajul Qaashidiin, hal. 322, Ibnu Qudamah al-Maqdisi
rahimahullah berkata, “Umat telah ijma' (sepakat) akan wajibnya taubat.”

Maka bersegeralah kalian wahai para hamba Allah untuk menuju kepada-Nya,
niscaya kalian akan mendapatkannya sebagai Dzat Yang Maha Penerima taubat dan
Maha Penyayang serta berjalanlah di atas jalan orang-orang mukmin yang
bertaubat, niscaya Rabb kalian akan membangkitkan kalian pada kedudukan yang
mulia lagi terhormat.

SETIAP ANAK ADAM PASTI BERSALAH
Di antara hal yang memperkuat akan wajibnya taubat nashuha agar dilakukan
secara kontinyu dan secepat mungkin adalah bahwa manusia manapun tidak akan
pernah lepas dan tidak akan selamat dari kekurangan, namun setiap makhluk
bertingkat-tingkat dalam kekurangan tersebut sesuai dengan takdirnya
masing-masing, bahkan pada asalnya mereka pasti memiliki kekurangan. Dan hal
itu ditutupi dengan taubat nashuha.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ßõáøõ ÇÈúäö ÂÏóãó ÎóØøóÇÁñ æóÎóíúÑõ ÇáúÎóØøóÇÆöíúäó ÇáÊøóæøóÇÈõæúäó.
“Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan
kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat.”[2]

Rasulullah Shallallahuy ‘alaihi wa sallam bersabda:
áóæú Ãóäøó ÇúáÚöÈóÇÏó áóãú íõÐúäöÈõæúÇ¡ áóÎóáóÞó Çááåõ ÎóáúÞðÇ íõÐúäöÈõæäó¡
Ëõãøó íóÛúÝöÑõ áóåõãú¡ æóåõæó ÇáúÛóÝõæúÑõ ÇáÑøóÍöíúãõ.
“Seandainya para hamba tidak melakukan dosa niscaya Allah akan menciptakan
makhluk lain yang melakukan dosa, kemudian Allah akan mengampuni mereka, dan
Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[3]

Maka marilah wahai para hamba Allah kita bersegera melakukan taubat nashuha
yang akan mensucikan ruh dari segala kotoran-kotorannya dan membersihkan hati
dari raan (karat)nya. Karena dosa-dosa adalah karat yang melekat pada hati dan
penghalang dari segala hal yang dicintai dan berpaling dari hal-hal yang akan
menjauhkan hati dari sesuatu yang dicintai secara syara’ adalah kewajiban yang
tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Åöäøó ÇáúãõÄúãöäó ÅöÐóÇ ÃóÐúäóÈó ßóÇäóÊú äõßúÊóÉñ ÓóæúÏóÇÁõ Ýöí ÞóáúÈöåö¡
ÝóÅöäú ÊóÇÈó æóäóÒóÚó æóÇÓúÊóÛúÝóÑó ÕõÞöáó ÞóáúÈõåõ ãöäúåóÇ¡ æóÅöäú ÒóÇÏó
ÒóÇÏóÊú ÍóÊøóì ÊóÚúáõæó ÞóáúÈóåõ ÝóÐóáößõãõ ÇáÑøóÇäõ ÇáøóÐöí ÐóßóÑó Çááåõ ÚóÒøó
æóÌóáøó Ýöí ßöÊóÇÈöåö:
“Sesungguhnya apabila seorang mukmin melakukan dosa, maka akan terjadi bintik
hitam di dalam hatinya. Jika ia bertaubat dan melepaskan dosa tersebut serta
beristighfar, maka hatinya akan dibersihkan. Namun, jika ia menambah dosanya,
maka bintik hitam tersebut pun akan bertambah hingga menutupi hatinya. Maka
itulah yang dimaksud dengan raan (karat) yang disebutkan oleh Allah dalam
kitab-Nya, ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka
usahakan itu menutup hati mereka.’ [Al-Muthaffifin: 14].”[4]

ANJURAN UNTUK MELAKUKAN TAUBAT NASHUHA
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menganjurkan untuk melakukan taubat dan
beristighfar, karena hal itu lebih baik daripada gemar melakukan dosa yang
terus-menerus dilakukannya.

Allah Jalla Tsana-uhu berfirman:
"Artinya : …Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan
jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang
pedih di dunia dan di akhirat dan mereka sekali-kali tidak mempunyai seorang
pelindung dan penolong pun di muka bumi." [At-Taubah: 74]
Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang juga berfirman:

"Artinya : Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun
kepada-Nya. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [Al-Maa’idah: 74]
Karena itulah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu memperbanyak taubat
dan istighfar (memohon ampunan) sehingga para Sahabat beliau menghitung ucapan
beliau dalam suatu majelis:

ÑóÈöø ÇÛúÝöÑúáöí æóÊõÈú Úóáóíøó Åöäøóßó ÃóäúÊó ÇáÊøóæøóÇÈõ ÇáúÛóÝõæúÑõ.
“Wahai Rabb-ku ampunilah aku, terimalah taubat-ku, sesungguhnya Engkau Maha
Penerima taubat lagi Maha Pengampun.” Sebanyak seratus kali.[5]
Demikian pula para Nabi dan Rasul-Rasul Allah, mereka senantiasa menganjurkan
kaum-kaum mereka untuk bertaubat. Allah Ta’ala berfirman melalui lisan Nabi
Shalih :
"Artinya : Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shalih. Shalih berkata,
'Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada bagimu ilah
selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari tanah dan menjadikan pemakmurnya,
karena itu mohonlah ampunan-Nya kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya
Rabb-ku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do’a hamba-Nya)." [Huud:
61]

Semoga Allah merahmati al-Qurthubi rahimahullah yang dalam kitab Tafsiirnya
(V/92) telah menganggap baik perkataan Muhammad al-Waraq yang mengatakan:

ÞóÜÏöøãú áöäóÝúÓößó ÊóæúÈóÜÉð ãóÑúÌõÜæøóÉð
ÞóÈÜúáó ÇáúãóãóÇÊö æóÞóÈúÜáó ÍóÈúÓö ÇúáÃóáúÓöäö
ÈóÜÇÏöÑú ÈöåóÇ ÛóáúÜÞó ÇáäøõÝõæúÓö ÝóÅöäøóåóÇ
ÐõÎúÜÑñ æóÛóäóÜãñ áöáúãõäöíúÈö ÇúáãõÍúÜÓöäö

Berikanlah taubat yang diharapkan untuk jiwamu,
sebelum kematian dan sebelum lisan-lisan dibelenggu.
Bersegeralah menutup jiwa dengan taubat karena sesungguhnya,
taubat adalah simpanan dan harta berharga bagi orang yang ingin kembali lagi
berbuat kebaikan.
[Disalin dari kitab at-Taubah an-Nashuuh fii Dhau-il Qur'aan al-Kariim wal
Ahaadiits ash-Shahiihah yang ditulis oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali
hafizhahullaah. Edisi Indonesia Luasnya Ampunan Allah, Penerbit Pustaka Ibnu
Katsir]

BAGAIMANA TAUBAT SESUAI TUNTUNAN ROSULULLAH SAW
Taubat yang murni ialah taubat yang terhimpun padanya lima syarat.
Pertama : Ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan meniatkan taubat itu
karena mengharapkan wajah Allah dan pahalanya serta selamat dari adzabnya.
Kedua : Menyesal atas perbuatan maksiat itu, dengan bersedih karena
melakukannya dan berangan-angan bahwa dia tidak pernah melakukannya.
Ketiga : Meninggalkan kemasiatan dengan segera. Jika kemaksiatan itu berkaitan
dengan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ia meninggalkannya, jika itu berupa
perbuatan haram dan ia segera mengerjakannya, jika kemaksiatan tersebut adalah
meninggalkan kewajiban. Jika kemaksiatan itu berkaitan dengan hak makhluk, maka
segera ia membebaskan diri darinya, baik dengan mengembalikannya kepada yang
berhak maupun meminta maaf kepadanya.
Keempat : Bertekad untuk tidak kembali kepada kemasiatan tersebut di masa yang
akan datang.
Kelima : Taubat tersebut dilakukan sebelum habis masa penerimaannya, baik
ketika ajal datang maupun ketika matahari terbit dari tempat tenggelamnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang
mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di
antara mereka, (barulah) ia mengatakan. ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”
[An-Nisa : 18]

AYAT-AYAT YANG BERKAITAN DENGAN TAUBAT
Oleh
Abu Usamah Salim bin ‘Ied al-Hilali
http://www.almanhaj.or.id/content/2169/slash/0
Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang berfirman.
"Artinya : …Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya
kamu beruntung." [An-Nuur: 31]
Dzat Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang berfirman.
"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan
taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb-mu akan menutupi
kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang
beriman yang bersamanya, sedangkan cahaya mereka memancar di hadapan dan di
sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, ‘Ya Rabb kami, sempurnakanlah
bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas
segala sesuatu.” [At-Tahrim : 8]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar