Selasa, 28 September 2010

Azahra Dinianur A IPA2

Berbuat kebaikan

Arti dari surat al-Baqarah 148
Artinya:  “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al Abaqarah 148).
                Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan fastabiqul khairat (bersegeralah dalam berbuat baik). Berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan berarti menaati dan patuh untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya dengan semangat yang tinggi. Allah akan membalas orang yang beriman, berbuat baik dan suka menolong dengan surga dan berada didalamnya kekal selama-lamanya. Oleh karena itu, hendaknya kaum muslimin bersatu, bekerja dengan giat, beramal, bertobat dan berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan dan tidak menjadi fitnah atau cemooh dari orang-orang yang ingkar sebagai penghambat.. Allah akan menghimpun seluruh manusia untuk dihitung dan diberi balasan atas segala mala perbuatannya. Allah maha kuasa atas segala sesuatu dan tidak ada yang dapat melemahkannya untuk mengumpulkan seluruh manusia pada hari pembalasan.


Percaya atau tidak ini adalah kenyataan yang sering saya hadapi beserta orang-orang dekat saya. Berbuat kebaikan adalah investasi yang nantinya akan kita peroleh hasilnya dalam waktu dekat atau dimasa mendatang. Bahkan bisa lintas generasi. Untuk berbuat baik tidak harus mahal, tidak harus dengan harta atau materi. Bagi yang bisa berbuat baik dengan tenaga, pikiran, doa atau yang lainnya, itu juga boleh. Pada intinya berbuat baik sesuai dengan kemampuan kita, dengan apa yang kita punya.
            Perbuatan baik tidak akan pernah sia-sia. Perbuatan baik akan memberikan efek damai dalam hati. Berbuat baik bisa tertujukan bagi seseorang, kelompok orang, bahkan masyarakat. Berbuat baik juga bisa pada hewan, tumbuhan, alam dan mungkin “penghuni alam lain”. Orang berbuat baik tidak akan ada ruginya….. Dan suatu saat akan terpetik hasilnya.
            Kadang kala kebaikan kita dibalas oleh kenyataan yang menyakitkan. adalah ujian kebaikan. Apabila kita bisa menerima dengan ikhlas, Insyaallah dalam waktu dekat kebaikan itu akan terbalaskan berlipat. Mulailah hari dengan kebaikan, maka insyaaalah sepanjang hari akan menyenangkan. Tutuplah hari dengan kebaikan, maka insyaalah akan tertidur dengan senyum. Bukankah hidup seperti ini indah??
            Layaknya sebuah “investasi”, kebaikan akan memberikan kebaikan, tentu saja dengan jumlah yang lebih banyak, berlipat atau bahkan melimpah. Seperti investasi pada bank atau perusahaan permodalan, kita juga akan mendapat bunga, hadiah, bonus dan lain-lain. Sayangnya investasi ini tidak ada kata rugi, yang ada hanya keuntungan. Investasi ini tidak kenal penipuan, hanya keuntungan. Investasi ini tidak kenal kasus penilepan uang dan kasus likuiditas.


Kadang kita merasa perlu untuk melatih diri sendiri agar konsisten dalam berbuat baik kepada sesama. Yang jelas banyak hambatannya. Jangankan berbuat baik...berbuat jahat aja banyak hambatan. Berbuat baik tidak harus ditunjukkan kepada orang lain atau khalayak ramai. Kalau itu yang terjadi, maka kita akan kehilangan pahala dari kebaikan kita. Karena perbuatan baik itu hanya untuk mendapatkan pujian dari orang lain. Padahal tanpa pujian orang lain pun perbuatan baik kita akan dicatat sebagai pahala dan menjadi bekal kehidupan di akhirat kelak.


Bukan kah Tuhan telah memberikan jaminan bahwa seberapa kecil pun amal perbuatan kita akan mendapatkan balasan yang setimpal.Sebagaimana tersebut dalam surat al zilzalah:

Fa may ya'mal mits qola dzarrotin khoiroiy yaroh
wa may ya'mal mits qola dzarrotin syarroiy yaroh


Yang artinya:
”Barang siapa berbuat kebaikan walaupun hanya sebesar biji zarah (atom), niscaya dia akan melihat balasannya, dan barang siapa yang berbuat kejahatan walaupun hanya seberat biji zarah(atom), niscaya dia akan melihat balasannya pula”.

Nah dari ayat diatas jelas terlihat bahwa setiap kebaikan atau keburukan sekecil apapun...akan mendapat balasan yang setimpal.

                                                                                                                             Azahra Dinianur A
                                                                                                                                                IX IPA 2
Ayat-ayat tentang perintah
menyantuni kaum dhuafa

A. Surah Al Isra 26-27

            Dalam upaya menanamkan kepekaan untuk saling tolong-menolong tersebut, kita dapat membiasakan diri dengan menginfakkan atau memberikan sebagian rezeki yang kita peroleh meskipun sedikit.
            Pada ayat 26, dijelaskan bahwa selain berbakti, berkhidmat, dan menanamkan kasih saying, cinta, dan rahmat kepada orang tua, ita pun hendaknya memberi bantuan kepada kaum keluarga yang dekat karena mereka paling utama dan berhak untuk ditolong.
            Allah memrintahkan manusia untuk berbakti dan berbuat baik tidah hanya kepada orang tua saja, namun masih harus berbuat baik kepada tiga golongan lain,yaitu:
a. Kepada kaum kerabat
b. Kepada orang miskin
c. Kepada orang terlantar
Pada ayat 27, Allah mengingatkan bahwa betapa buruknya sifat orang yang boros. Mereka dikatakan sebagai saudara setan karena suka mengikuti dan sanagt penurut kepadanya. Orang yang boros bermakna orang yang membelanjakan hartanya dalam perkara yang tidak mengandung ketaatan.

B. Surah Al Baqarah Ayat 177

 Bacaan Surah Al Baqarah Ayat 177

Artinya: “Bukanlah kebaikan-kebaikan itu menghadapkan ke wajah kamu kea rah timur dan barat, tetapi kebaikan itu adalah barang siapa yang beriman kepada Allah, hari akhirat, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada para kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang membutuhkan pertolongan), orang-orang yang meminta-minta, dan membebaskan perbudakan, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan orang-orang yanmg memenuhi janjinya bila mereka berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam menghadapi kesempitan, penderitaan,dan pada waktu peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. “ (QS. Al Baqarah: 177)

Isi Kandungan

Yang dimaksud denagn kebaikan pada surah Al Baqarah Ayat 177 ini adalah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan senantiasa mewujudkan keimanannya di dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh-contoh dari perbuatan baik tersebut antara lain sebagai berikut.
a. Memberi harta yang dicintainya kepada karib kerabat yang membutuhkannya.
b. Memberikan bantuan kepada anak yatim.
c. Memberikan harta kepada musafir yang membutuhkan.
d. Memberi harta kepada orang-orang yang terpaksa meminta-minta.
e. Memberikan harta untuk memerdekakan hamba sahaya.
f. Memjalankan ibadah yang telah diperintahkan Allah denagn penuh keikhlasan.
g. Menunaikan zakat kepada orang yang berhak menerimanya sebagaimana yang tersebut dalam surah At Taubah Ayat 60.
h. Menepati janji bagi mereka yang mengadakan perjanjian.
Akan tetapi, terhadap janji yang bertentangan dengan hokum Allah
(syariat islam) seperti janji dalam perbuatan maksiat, maka janji itu tidak boleh (haram) dilakukan.


Nilai amal shaleh sangat erat kaitannya dengan iman. Sebaliknya, amal saleh bila tidak didasari dengan iman (bukan karena Allah), maka dosa itu tidak bias ditebus dengan amal saleh sebesar apapun sehingga perbuatan-perbuatan baik yang telah dilakukan tidaka akan bernilai (pahala) dan sia-sia. Al Quran dalam hal ini menyatakan sebagai berikut.
a. Orang yang mati dalam kekafiran akan dihapus amalannya.
b. Orang-orang yang musyrik akan dihapus amalannya.
c. Amal perbuatan orang0orang kafir akan sia-sia.
d. Orang kafir akan ditimpakan siksa di dunia dan di akhirat.
e. Orang kafir dan musyrik akan dimasukkan ke dalam neraka.
f. Orang yang tidak beriman kepada akhirat hanya mendapatkan kehidupan dunia saja.

C. Penerapan Sikap dan Perilaku

Pencerminan terhadap Surah Al Isra ayat 26-27 dan Al Baqarah Ayat 177 dapat melahirkan perilaku,antara lain sebagai berikut.
1. Bekerja dengan tekun untuk mencari nafkah demi keluarga.
2. Suka menabung dan tidak pernah berlaku boros meskipun memiliki banyak harta.
3. Menjauhi segala macam kegiatan yang sia-sia dan menghabiskan waktu percuma.
4. Suka bersedekah, khusunya terhadap orang yang kekurangan dimulai dari keluarga dan tetangga terdekat.
5. Mempelajari ilmu agama dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.


PERINTAH MENYANTUNI KAUM DHUAFA
II. Arti Dari Menyantuni Kaum Duafa Beserta Orang Yang Pantas Diberi Santunan
Maksud dari menyantuni kaum duafa ialah memberikan harta atau barang yang bermanfaat untuk duafa, kaum duafa sendiri ialah orang yang lemah dari bahasa Arab (duafa) atau orang yang tidak punya apa-apa, dan mereka harus disantuni bagi kewajiban muslim untuk saling memberi, itu sebagai bentuk ibadah kepada Allah Swt perlu digaris bawahi, bahwa “memberi” tidak harus uang malah kita berikan makanan bisa tapi nanti ibadahnya akan mengalir terus seperti halnya infak dan kalau sudah diberi akan jadi tanggung jawab orang miskin itu, misal saja barang yang diberikan digunakan untuk beribadah kepada Allah atau hal positif lainnya akan terkena pahala yang sama, ketika Dia gunakan tadi, sebaliknya degan digunakan mencopet atau judi kita tidak akan mendapat pahala buruk dari orang miskin itu insya Allah pahalanya tidak akan berkurang setelah memberi kepada orang miskin itu gunakan.
Dan menurut para ulama menyantuni kaum duafa akan menyelamatkan diri kita dari api neraka, tapi sekarang banyak manusia yang segan megeluarkan hartanya untuk berinfak pada kaum duafa, tapi ada juga yang selalu membantu kaum dufa itu, bukan saja yang berarti duafa pada orang miskin juga bisa pada misalnya ; panti asuahan, membangun masjid, kepada diri sendiri, anak yang putus sekolah biayai pendidikannya sampai tingkat SMA , dan keluarga dekat serta orang yang sedang perjalanan, ini sama dijelaskan pada surat Al-isra’ ayat 26-27.


                                                                                                                                Azahra Dinianur A
                                                                                                                                                IX IPA 2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar