Rabu, 29 September 2010

Hafni Sophia IPA3

Berlomba-Lomba dalam Kebaikan
Rasulullah SAW bersabda, “Bersegeralah kamu beramal shaleh, karena akan datang (terjadi) fitnah-fitnah seperti serpihan malam gulita, di mana seseorang pada pagi hari beriman, namun sore harinya kafir, sore hari beriman pada pagi harinya kafir. Ia rela menjual agamanya dengan harta benda dunianya.”
Ayo kita renungkan dan tangkap pesan Rasulullah SAW yang termaktub dalam hadits tsb, yaitu bahwa fitnah besar akan terjadi dan akan menggoncang kehidupan manusia. Karena begitu dahsyatnya goncangan fitnah itu, sampai menyentuh keimanan. Bahkan diperlihatkan dengan seorang mukmin akan dapat berubah pendirian agamanya dalam sehari, pagi beriman sore hari kafir, sore hari beriman pagi hari menjadi kafir.
Sesuai dengan pesan Rasulullah SAW melalui hadits tersebut, langkah yang patut dilakukan pada saat kondisi seperti yang terjadi di jaman kericuhan ini yakni dengan, berlomba-lomba dalam beramal shaleh dan kebaikan. Dengan cara saling mengingatkan akan pentingnya mencegah terjadinya kerusakan-kerusakan dalam kehidupan. Karena itu, agar terciptanya , maka yang terpenting saat ini adalah mensosialisasikan pesan moral yang termaktub dalam surat Al-’Ashr. Allah SWT berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati agar selalu bersabar.”
Sebagaimana pula, berbuat kebaikan dan melakukan amal shaleh dapat dilakukan dengan berbagai bidang dan kesempatan menurut kemampuan masing-masing. Jika kita hanya mampu menyumbangkan pikiran, maka kemampuan ini harus dapat dioptimalkan untuk kebaikan dan amal shaleh, dengan cara memberikan solusi terbaik terhadap setiap permasalahan yang dapat merusak keharmonisan antar kita. Jika kita mampu dengan harta, mari kita “belanjakan” untuk segala hal-hal yang menyangkut kebaikan, minimal mampu membantu saudara-saudara kita yang lemah. Amal baik itu akan dapat kita petik hasilnya di akhirat nanti.
Salah satu rahasia yang diungkapkan Allah di dalam KalamNya adalah, bahwa orang yang beramal shaleh akan diberi balasan yang baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini disitir dalam surat Az-Zumar ayat 10,
“Katakanlah:Hai hamba-hambaKu yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas."

Allah SWT berfirman: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu merupakan suatu kebaikan, akan tetapi, sesungguhnya kebaikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintai kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), orang yang meminta-minta; memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2] : 177).

Berdasarkan ayat tersebut, jadi kebaikan sesungguhnya yakni takut kepada Allah, tetap mengingat hari pembalasan, mengikuti hati nurani, selalu menepati janji bukan hanya mengumbar janji, dan selalu melakukan perbuatan yang akan diridhai Allah SWT. Oleh sebab itu, mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan dan amal shaleh. Di samping sebagai bekal kita kelak di akhirat, juga kelak dapat mewujudkan keharmonisan antar umat , sehingga tercipta kerukunan ukhuwah islamiyah.
Berlomba-lomba dalam Kebaikan
Ada sebuah kisah tentang protes orang fakir terhadap orang kaya. Suatu hari, orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin merasa tidak bisa memperbanyak amal kebaikan, karena mereka tidak memiliki harta untuk diinfakkan. Padahal mereka selalu mendengar berbagai ayat dan hadits yang mendorong untuk berinfak, menjanjikannya surga yang luanya seluas langit dan bumi. Di sisi lain, mereka melihat saudara-saudara mereka yang kaya berlomba-lomba untuk berinfak. Ada yang memberikan tumpukan hartanya kepada Rasulullah lalu beliau mendoakannya, memintakan ampunan dan keridlaan dari Allah untuk mereka.
Hal ini menggugah hati para sahabat yang miskin. Mereka berharap bisa mendapatkan kelebihan sebagaimana yang diperoleh oleh saudara-saudara mereka. Bukan karena dengki dengan kekayaan yang dimiliki saudaranya. Namun, didorong oleh rasa ingin berlomba-lomba dalam kebaikan. Kemudian, mereka berkumpul dan datang menemui Rasulullah SAW. Dengan sedih, mereka mengadukan hal tersebut lantaran tidak ada sesuatu yang bisa diinfakkan. Mereka berkata, “Ya Rasulullah, orang kaya telah mendapatkan pahala yang banyak, sedangkan kami tidak. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, berpuasa sebagaimana kami puasa. Tidak ada kelebihan sama sekali. Namun, mereka lebih dari kami karena mereka bisa berinfak dengan kelebihan hartanya, sedangkan kami tidak memiliki apapun untuk kami infakkan untuk menyusul mereka. Padahal, kami benar-benar ingin bisa mencapai kedudukan mereka. Apa yang perlu kami perbuat?”
Lalu, Rasulullah SAW memahami keinginan mereka yang begitu kuat untuk mencapai derajat yang tertinggi di sisi Rabb-nya. Dengan sangat bijak beliau memberikan jawaban yang menenangkan yakni dengan memberitahukan bahwa pintu kebaikan sangat luas. Ada beberapa amalan yang menyamai pahala orang yang berinfak, bahkan bisa melebihnya. Beliau bersabda:
“Bukankah Allah telah menjadikan untuk kalian apa-apa yang bisa kalian sedekahkan?; Sesungguhnya setiap tasbih (subhanallah) adalah sedekah, setiap takbir (Allahu akbar) adalah sedekah, setiap tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (Laa Ilaaha Illallah) adalah sedekah, menyeru kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari yang munkar adalah sedekah, dan bersetubuh dengan istri juga sedekah.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah jika di antara kami menyalurkan hasrat biologisnya (kepada istrinya) juga mendapat pahala?” Beliau menjawab, “Bukankah jika ia menyalurkannya pada yang haram akan mendapat dosa? Maka demikian pula jika ia menyalurkannya pada tempat yang halal, ia akan mendapat pahala.” (HR. Muslim)
Lalu, ketika orang-orang kaya dari sahabat Nabi mendengar dan mengetahui keutamaan dzikir, lantas mereka ikut pula mengamalkannya. Karenanya, orang-orang fakir tsb datang kembali menemui Rasulullah untuk kedua kalinya. Mereka berkata, “Ya Rasulullah, teman-teman kami yang kaya mendengar nasihatmu. Lalu mereka melakukan seperti yang kami lakukan.” Rasulullah SAW menjawab,
“Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya . . “ (QS. Al-Maidah: 54)
Subhanallah, begitu hebatnya keadaan para sahabat Nabi SAW, maka pantaslah jika Allah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya dan memberikan jaminan keridlaan dan kedudukan mulia di sisi-Nya. Mereka adalah orang sangat kuat semangatnya dan sangat besar keinginannya untuk beramal shalih dan mengerjakan kebaikan. Karenanya, jika ada kebaikan yang tidak bisa mereka kerjakan maka mereka bersedih. Terlebih bila saudara mereka yang lain mampu mengerjakannya. Lantas mereka yang fakir saja sangat ingin berlomba mencari kebaikan, bagaimana dengan kita?
“Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu", lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (QS. Al-Taubah: 92)
Sesungguhnya bersaing dan berlomba-lomba untuk mendapatkan kebaikan dan melakukan amal shalih adalah diperintahkan. Allah Ta’ala berfirman:
“Tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (QS. Al-Maidah: 48)
Ayat ini memerintahkan kepada kita agar berlomba-lomba dalam kebaikan dan beramal shalih sangat banyak. Barangsiapa, di dunianya, lebih dahulu dalam kebaikan maka di akhriatpun akan menjadi orang yang lebih dahulu masuk surga.
Jadi, dalam amal ketaatan, kebaikan dan ibadah harus saling berlomba untuk menjadi terbaik dan mendapatkan pahala terbesar. Tidak ada itsar (mendahulukan yang lain) dalam hal itu. Itsar hanya berlaku dalam urusan duniawi. Maka dari itu, marilah kita berlomba lomba untuk menvari kebaikan selama degupan jantung masih terdengar.

Pedulilah dan Santunilah KAUM DHUA'FA
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin." (QS. 107 : 1-3).

Rasulullah SAW bersabda : "Seorang Muslim adalah saudara Muslim yang lain. Siapa saja yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang menghilangkan kesusahan dari seorang Muslim, Allah akan menghilangkan salah satu kesusahannya pada Hari Kiamat." (HR. Muttafaq 'alaih).
Di dalam kehidupan ini sangat banyak kejadian akan kehidupan masyarakat yang membutuhkan bantuan dan uluran tangan kita. Ayat Allah di atas memgancam kita yang tidak suka memperhatikan kehidupan keum dhuafa tersebut.
Kemiskinan yang mendera selama ini memunculkan banyak kaum dhuafa (kaum lemah) dan kaum mustadhafin (kaum tertindas), seperti kaum miskin, fakir, perempuan, orang yang terlilit hutang, anak yatim, dan lain-lain. Siapakah kaum du’afa? Mereka adalah fakir dan miskin (tertekan keadaan) bukan malas, yang kurang tenaga, yang keterbatasan , yang terbelakang. Kaum dhuafa’ terdiri dari orang-orang yang terlantar, fakir miskin, anak-anak yatim dan orang cacat.
Lalu , apa yang harus kita lakukan?
• Menyantuni ( bersikap ramah ) Dengan ucapan dan lain-lain
• Menolong (Dengan harta seperti berzakat , tenaga, fikiran, dll)
• Tidak melecehkan (Menganggap sama dan sederajat)
Rasulullah Saw berpesan kepada kita, yakni mendekati si miskin, dan selalu melihat ke bawah
Apakah manfaat menyantuni kaum dhuafa?
Pertama, dapat mempererat tali silahturahmi dan Ukhwah Islamiyah yakni rasa persaudaraan yang dilandasi persaman aqidah dan keyakinan. Allah SWT berfirman dalam al Qur'an :
إنَّمَـاالـْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ
“Hanyalah orang-orang beriman itu bersaudara”
Segala perbuatan sosial berkaitan dengan kemasyarakatan yang kita lakukan hendaklah mengutamakan saudara kita. Sehingga kita bisa menjadi ummat yang unggul baik secara aqidah, ekonomi, pertahanan dan lain-lain. Dari sini kebersamaan kita terhadap ajaran agama menjadi tampak. Rasulullah SAW bersabda:
لاََيُؤْمِنُ أََحَدُكـُمْ حَتىَّ يُحِبَّ لأخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفسِه
“Tidak sempurna iman seseorang diantara kamu, sehingga dia mencintai Saudaranya sama seperti mencintai dirinya sendiri.”
Hadits ini mengaitkan antara kesempurnaan iman dengan kecintaan terhadap sesama muslim. Diantaranya dengan membantu meingankan beban hidup mereka. Kaum dhuafa’ disebut oleh Nabi Muhammad sebagai orang-orang yang sangat dekat dengan Nabi kelak di akhirat. Bahkan Nabi Muhammmad bersabda, bahwa kelak Nabi akan bersama kaum dhuafa’ di akhiratNabi menyebutkan, bahwa antara dirinya dengan anak-anak yatim seperti jari telunjuk dengan jari tengah. Keduanya sangat dekat. Maka selayaknya, sebagai ummat Muhammad SAW untuk membela kepentingan para dhuafa’.
Kedua,Menyantuni kaum dhuafa bisa membuka pintu rezeki kita yang terhalang. Salah satu sebab ialah doa kaum dhuafa sangatlah manjur. Tindakan baik yang kita tujukan kepada mereka akan berbalas doa yang terijabahi.
Diriwayatkan dari Abu Darda’ ra. Ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Carilah aku melalui orang-orang lemah kalian, karena sesunguhnya kalian akan diberi rezeki dan ditolong sebab (berkat) orang-orang dhuafa.” (HR. Turmudzi, Nasai dan Abu Daud).
Apakah akibat jika kita Menyia-nyiakan Kaum dhua’fa?
Sesungguhnya jika kita menzolimi mereka, maka kita akan mendapat dosa besar. "Sebaik-baik kamu ialah orang yang banyak manfaatnya (kebaikannya) kepada oranglain."
Oleh karena itu, kita sebagai makhluk sosial, marilah kita santuni kaum dhuafa seperti bagaimana yang dicontohkan oleh rasulullah, karena mereka adalah saudara kita. Jika kita santuni mereka, maka akan terjalin kehidupan yang sejahtera dan ukhuwah islamiyahpun terjaga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar