Selasa, 28 September 2010

RISKA MEIDINA IPA7

NAMA : Riska Meidina
KElAS : xi ipa 7
ABSEN : 22

Anugerah kehidupan yang kita dapatkan bukanlah merupakan sebuah perkara yang kecil. Dapat kembali terjaga dipagi hari yang cerah adalah sebuah hadiah kesempatan bagi kita untuk kembali memperbaharui keimanan dan ikrar untuk senantiasa melangkah dalam taat kepada Allah SWT, bersama rasa syukur dalam wujud amal perbuatan baik. Waktu-waktu yang terbentang menjadi sarana yang menghantarkan diri kita dalam menggapai rahmat dan keridhoan-Nya.

Allah berfirman :
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Al Abaqarah 148
Jadi, berdasarkan ayat di atas, kebaikan sesungguhnya adalah takut kepada Allah, tetap mengingat hari pembalasan, mengikuti hati nurani, selalu menepati janji bukan hanya mengumbar janji, dan selalu melakukan perbuatan yang akan diridhai Allah SWT. Maka, bukanlah disebut kebaikan jika kita merusak substansi akidah kita dengan memberikan toleransi seluas-luasnya terhadap tindakan-tindakan yang menyimpang dari risalah tauhid yang diajarkan Rasulullah SAW. Jelasnya, tidak ada toleransi jika menyangkut “teritorial” akidah kita.

Melakukan kebaikan adalah hal yang tidak bisa ditunda, melainkan harus segera dikerjakan. Sebab kesempatan hidup sangat terbatas. Kematian bisa saja datang secara tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya. Karena itu semasih ada kehidupan, segeralah berbuat baik. Lebih dari itu bahwa kesempatan berbuat baik belum tentu setiap saat kita dapatkan. Karenanya begitu ada kesempatan untuk kebaikan, jangan ditunda-tunda lagi, tetapi segera dikerjakan. Karena itu Allah swt. dalam Al Qur’an selalu menggunakan istilah bersegeralah, seperti fastabiquu atau wa saari’uu yang maksudnya sama, bergegas dengan segera, jangan ditunda-tunda lagi untuk berbuat baik atau memohon ampunan Allah swt. Dalam hadist Rasulullah saw.Dan untuk berbuat baik hendaknya selalu saling mendorong dan saling tolong menolang. Imam An Nawawi mengatakan: wa hatstsu man tawajjaha likhairin ‘alal iqabaal ‘alaihi. Ini menunjukkan bahwa kita harus membangun lingkungan yang baik. Lingkungan yang membuat kita terdorong untuk kebaikan. Karena itu dalam hadits yang menceritakan seorang pembunuh seratus orang lalu ia ingin bertaubat, disebutkan bahwa untuk mencapai tujuan taubat tersebut disyaratkan akan ia meninggalkan lingkungannya yang buruk. Sebab tidak sedikit memang seorang yang tadinya baik menjadi rusak karena lingkungan. Karena itu Imam An Nawawi menggunakan al hatstsu yang artinya saling mendukung dan memotivasi. Sebab dari lingkungan yang saling mendukung kebaikan akan tercipta kebiasaan berbuat baik secara istiqamah.
Selain itu kesigapan melakukan kebaikan harus didukung dengan kesungguhan yang dalam


Meskipun kebaikan kita sadari sebagai sesuatu yang harus kita laksanakan, ternyata hanya sedikit orang yang antusias untuk melakukan kebaikan itu. Karena itu, ada beberapa hal yang bisa dijadikan agar resep bagi seseorang bersemangat melakukan kebaikan,yaitu : Niat Yang Ikhlas, Cinta Kebaikan Dan Orang Baik, Merasa Rugi Bila Meninggalkan, Merasa Beruntung Bila Melakukan, Meneladani Generasi Yang Baik, dan Memahami Ilmu Kebaikan.
Berbuat baik merupakan sesuatu yang sangat mulia dan seseorang akan bersemangat melakukan kebaikan apabila dengan kebaikan itu dia merasa yakin memperoleh keberuntungan, baik di dunia maupun di akhirat. Ada banyak keuntungan yang akan diperoleh manusia bila ia berbuat baik :
Pertama, selalu disertai oleh Allah SWT, lihat QS 16: 128.
Kedua, menambah kenikmatan untuknya, lihat QS 2: 58, 7: 161, 33: 29.
Ketiga, dicintai Allah, lihat QS 7: 161, 5: 13, 2: 236, 3: 134, 3: 148, 5: 96.
Keempat, memperoleh rahmat Allah, lihat QS 7: 56.
Kelima, memperoleh pahala yang tidak disia-siakan Allah SWT, lihat QS 9: 120, 11: 115, 12: 56.
Keenam, dimasukkan ke dalam surga, lihat QS 5: 85, 39: 34, 6: 84, 12: 22, 28: 14, 37: 80.
Diantara kebaikan yang perlu dilakukan dalam keseharian misalnya :
• Memberikan harta yang kita sukai atau yang masih bagus kepada kerabat atau saudara kita, dan hendaknya kerabat itu yang paling dekat hubungan keluarganya.
• Menyantuni kepada orang yang tidak mampu atau orang miskin, anak yatim piatu, karena mereka masih sangat membutuhkan pertolongan dan bantua.
• Menolong kepada musafir yang berniat baik dalam perjalanan dan pengembaraanya.
• Membantu kepada orang yang terpaksa harus meminta-minta, seperti gelandangan dan pengemis.
• Memberikan sebagian harta kepada orang yang lemah, sakit, kekurangan
• Melaksanakan ibadah yang menjadi kewajiban manusia kepada Allah SWT
• Melaksanakan kewajiban untuk membayar zakat
• Menepati janji bagi orang yang mengadakan perjanjian.
• Sabar dalam penderitaan
Akhirnya, menjadi jelas bagi kita bahwa hidup ini harus kita jalani semata-mata untuk mengabdi kepada Allah SWT (QS 51: 56) yang salah satunya terwujud dalam bentuk melakukan kebaikan. Dan masing-masing orang harus berusaha melakukan kebaikan sebanyak mungkin sebagai perwujudan kehidupan yang baik di dunia dan ini pula yang akan menjadi bekal bagi manusia dalam menjalani kehidupannya di akhirat kelak . Semakin banyak perbuatan baik yang dilakukannya, maka akan semakin mulia harkat dan martabatnya di hadapan Allah SWT dan di akhriatpun akan menjadi orang yang lebih dahulu masuk surga,Wallahu a’lam.Di sinilah letak pentingnya bagi kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.Berbuat kebaikan dan melakukan amal shaleh dapat dilakukan dengan berbagai media dan kesempatan menurut kemampuan masing-masing. Jika kita hanya mampu menyumbangkan pikiran, maka kemampuan ini harus dapat dioptimalkan untuk kebaikan dan amal shaleh, dengan cara memberikan solusi terbaik terhadap setiap permasalahan yang dapat merusak keharmonisan antar kita. Jika kita mampu dengan harta, mari kita “belanjakan” untuk segala hal-hal yang menyangkut kebaikan, minimal mampu membantu saudara-saudara kita yang lemah. Yang penting, kita dapat berbuat baik dan bermanfaat bagi agama dan negara. Dan, amal baik itu akan dapat kita petik hasilnya kelak di akhirat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar