Sabtu, 25 September 2010

WIDYA RAHMAWATI A2

Berlomba-lomba Dalam Berbuat Kebaikan

http://kongaji.tripod.com/myfile/al-baqoroh_ayat_148-152_files/image002.jpgSemakin banyak perbuatan baik yang dilakukannya maka akan semakin mulia harkat dan martabatnya di hadapan Allah SWT. Di sinilah letak pentingnya bagi kita untuk berloma-lomba dalam kebaikan sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 148
                                                           
   قَدِيْرٌ شَيْءٍ كُلِّ عَلَى اللهَ إِنَّ جَمِيْعًا اللهُ بِكُمُ يَأْتِ تَكُوْنُوْا مَا أَيْنَ الْخَيْرَاتِ فَاسْتَبِقُوا مُوَلِّيْهَاهُوَوِجْهَةٌلِكُلٍّوَ
 Artinya : “Dan bagi tiap-tiapnya itu satu tujuan yang dia hadapi. Sebab itu berlomba-lombalah kamu pada serba kebaikan. Di mana saja kamu berada niscaya akan di­kumpulkan Allah kamu sekalian.Sesungguhnya Allah atas tiap-tiap sesuatu Maha Kuasa.”
Dalam ayat tersebut terdapat perintah yang sangat jelas dan tegas yaitu untuk berlomba-lomba dalm berbuat kebaikan. Namun perlombaan akan menjadi baik dan produktif, jika tidak saling menghancurkan, tidak saling membunuh, tidak saling mencederai dan tidak merusak lingkungan.
Meskipun kebaikan kita sadari sebagai sesuatu yang harus kita laksanakan ternyata tidak sedikit orang yang tidak antusias untuk melakukan kebaikan itu. Karena itu ada beberapa hal yang bisa dijadikan resep bagi seseorang agar bersemangat melakukan kebaikan.Yang pertama niat yang ikhlas, karena dengan niat yang ikhlas karena Allah dalam melakukan kebaikan akan membuat seseorang memiliki perasaan yang ringan dalam mengerjakan amal-amal yang berat sekalipun, apalagi bila amal kebaikan itu tergolong amal yang ringan. Sedangkan tanpa keikhlasan jangankan amal yang berat amal yang ringan pun akan terasa menjadi berat.Yang kedua,cinta kebaikan dan orang baik, seseorang akan antusias melaksanakan kebaikan manakala pada dirinya terdapat rasa cinta pada kebaikan hal ini karena manamungkin seseorang melakukan suatu kebaikan apabila dia sendiri tidak suka pada kebaikan itu.
Yang ketiga, merasa beruntung bila melakukan kebaikan, seseorang akan melakukan kebaikan apabila dengan kebaikan itu dia merasa memperoleh keberuntungan baik di dunia maupun di akhirat. Yang keempat, memahami ilmu kebaikan, bagi seorang muslim tiap amal yang dilakukannya tentu harus didasari pada ilmu semakin banyak ilmu yang dimiliki dipahami dan dikuasai insya Allah akan makin banyak amal yang bisa dilakukannya sedangkan makin sedikit pemahaman atau ilmu seseorang akan semakin sedikit juga amal yang bisa dilakukannya apalagi belum tentu orang yang mempunyai ilmu secara otomatis bisa mengamalkannya.
Berbuat kebaikan dan melakukan amal saleh dapat dilakukan dengan berbagai media dan kesempatan menurut kemampuan masing-masing. Yang penting, kita dapat berbuat baik dan bermanfaat bagi agama kita, dan amal baik itu akan dapat kita petik hasilnya kelak di akhirat. Paling tidak ada dua kriteria tentang kebaikan yang diterima oleh Allah SWT. Pertama ikhlas dalam beramal yakni melakukan suatu amal dengan niat semata-mata ikhlas karena Allah SWT atau tidak riya dalam arti mengharap pujian dari selain Allah SWT. Kedua melakukan kebaikan itu secara benar hal ini karena meskipun niat seseorang sudah baik bila dalam melakukan amal dengan cara yang tidak baik maka hal itu tetap tidak bisa diterima oleh Allah SWT.

Widya Rahmawati
XI IPA 2
Menyantuni Kaum Dhuafa

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa didalam rezki yang telah diberikan-Nya terdapat sebagian harta yang wajib kita berikan kepada yang berhak untuk menerimanya. Seperti dalam salahsatu firman Allah dalam surat Al-Isra ayat 26-27

(٢٦)يلِ وَلَا تُبَذِّرۡ تَبۡذِيرًاوَءَاتِ ذَا ٱلۡقُرۡبَىٰ حَقَّهُ ۥ وَٱلۡمِسۡكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِ
(
٢٧)وَكَانَ ٱلشَّيۡطَـٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورً۬ا إِنَّ ٱلۡمُبَذِّرِينَ كَانُوٓاْ إِخۡوَٲنَ ٱلشَّيَـٰطِينِ‌ۖ

Artinya : “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya ; kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menhamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada tuhannya. “ (QS Al Isra: 26-27)
Kandungan Surat Al-Isra’ Ayat 26-27 adalah Allah Swt memerintahkan seorang muslim memberikan hak kepada keluarga, Orang miskin, dan orang yang sedang perjalanan.Hak yang harus dilakukan seorang muslim terhadap keluarga dekat, orang miskin, dan orang yang sedang dalam perjalanan adalah mempererat tali persaudaraan dan hubungan kasih saying, serta membantu meringankan beban penderitaan yang mereka alami.Hak keluarga dekat misalnya memperoleh penghormatan, kasih sayang, mengunjungi apabila tertimpa musibah, dan ikut gembira ketika memperoleh nikmat. Hak fakir miskin, misalnya memperoleh sedekah, disayangi, dikasihani, dan membantu meringankan beban penderitaannya. Hak ibnu sabil/orang yang dalam perjalanan dengan tujuan baik adalah memberikan bantuan dan pertolongan agar tujuan mereka tercapai.
Maksud dari menyantuni kaum dhuafa ialah memberikan harta atau barang yang bermanfaat untuk dhuafa, kaum dhuafa sendiri ialah orang yang lemah dari bahasa Arab (dhuafa) atau orang yang tidak punya apa-apa, dan mereka harus disantuni bagi kewajiban muslim untuk saling memberi, itu sebagai bentuk ibadah kepada Allah Swt perlu digaris bawahi, bahwa “memberi” tidak harus uang. Allah memrintahkan manusia untuk berbakti dan berbuat baik tidak hanya kepada orang tua saja, namun masih harus berbuat baik kepada tiga golongan lain,yaitu, kepada kaum kerabat,orang miskin dan orang terlantar.
Pencerminan terhadap Surat Al-Isra ayat 26-27 dapat melahirkan perilaku antar lain, bekerja dengan tekun untuk mencari nafkah demi keluarga,suka menabung dan tidak pernah berlaku boros meskipun memiliki banyak harta,menjauhi segala macam kegiatan yang sia-sia dan menghabiskan waktu percuma, suka bersedekah khusunya terhadap orang yang kekurangan dimulai dari keluarga dan tetangga terdekat.






Widya Rahmawati
XI IPA 2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar