Jumat, 24 September 2010

Dwi Ajeng Zahrotun Noor



Tugas Agama Islam kelas XI


Bab 1 dan Bab 2


9/21/2010


XP
Nama : Dwi Ajeng Zahrotun Noor
Kelas : XI IPA 9/15




Kata Pengantar
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Puji syukur saya panjatkan atas kehadiran Allah SWT ,karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya karya tulis ini telah tersusun.Karya tulis ini memuat materi yang mencangkup dalam bab  1 maupun bab 2.Dengan harapan penyusunan karya tulis ini dapat di jadikan sumber dalam mempelajari Agama islam khususnya dalam bab ini.Karena termuat di dalamnya arti maupun muatan kandungan ayat tersebut.
Saya harapkan kepada guru mata pelajaran Agama Islam, kami sadar dalam penyusunan karya tulis ini masih banyak terjadi kesalahan.Mohon bapak memberikan kritik.
Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih dan Wassalamualaikum Wr.Wb.





                                       

        
Dwi Ajeng Zahrotun Noor
                                                           
Daftar Isi



·                     Kata Pengantar………………………………………………………………………………….02
·                     Daftar Isi ………………………………………………………………………………………..…03
·                     Bab 1. Ayat Al-quran : Surah Al-Baqarah,2:148 dan Surat Al-Fatir,35 :32
·         Surat Al-Baqarah,2:148………….…………………………………………………..04
1.               Isi Kandungan…………………………..………………………………………………..04
2.                Arti kata kata… …………………………………………………….………………..…06
3.               Idenfikasi tajwid…………………………………………………………..………….…06
4.               Kesimpulan………..…………………………………………………………………...…06
·         Surat Al-Fatir,35:32………………..……………………………………………..…..07
1.               Arti Kata kata…………………………………………………………………………..…07
2.               Idenfikasi tajwid……………….……………………………………………………..…07
3.               Isi Kandungan…….…………………………………………………………………..….08
4.               Kesimpulan……………………………….………………………………………..……..09
·                     Bab 2. Ayat Al-quran : Surah Al-Isra,17 :26 -27,dan Al-Baqarah,2 :177
·         Surah Al-Isra,17 :26 -27………………………….…………………………10
·         Isi Kandungan ………………………….………………….……………………10
·         Al-Baqarah,2 :177….………………………………………..…………..……11
·         Isi Kandungan …..………………………………………………….…..………11





Bab 1. Ayat Al-quran : Surat Al-Baqarah,2:148 dan Surat Al-Fatir,35 :32

(1.)
http://kongaji.tripod.com/myfile/al-baqoroh_ayat_148-152_files/image002.jpg  
وَ لِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللهُ جَمِيْعًا إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ 
Ayat Al-quran : Surat Al-Baqarah,2:148
Artinya:
Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Isi kandungan :
وَ لِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا
"Dan bagi tiap-tiapnya itu ada satu tujuan yang dia hadapi. " (pangkal ayat 148).

Ayat ini adalah lanjutan dari keterangan tentang masing-masing golongan yang mempertahankan kiblatny: tadi.
Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai tafsir ayat ini, ialah bahwa bagi tiap-tiap pemeluk suatu agama ada kiblatnya sendiri. Bahkan tiap-tiap kabilahpun mempunyai tujuan dan arah.sendiri, mana yang dia sukai. Namun orang yang beriman tujuan atau kiblatnya hanya satu, yaitu mendapat ridha Allah.
Abul `Aliyah menjelaskan pula tafsir ayat ini demikian: "Orang Yahudi mempunyai arah yang ditujuinya, orang Nasranipun mempunyai arah yang ditujuinya. Tetapi kamu, wahai ummat Muslimin, telah ditunjukkan Allah kepadamu kiblatmu yang sebenarnya."

Nabi lbrahim di zaman dahulu berkiblat ke Masjidil Haram, ummat Yahudi berkiblat ke Baitul Maqdis, ummat Nasrani berkiblat ke sebelah timur, dan Nabi-nabi yang lainpun tentu ada pula kiblat mereka menurut zamannya masing-masing, dan engkau wahai utusanKu dan kamu wahai pengikut utusan Ku; kamu mempunyai kiblat. Tetapi kiblat bukanlah pokok, sebagai di ayat-ayat di atas telah diterangkan, bagi Allah timur dan barat adalah sama, sebab itu kiblat berobah karena perobahan Nabi. Yang pokok ialah menghadapkan hati langsung kepada Allah, Tuhan sarwa sekalian alam. itulah dia wijhah atau tujuan yang sebenarnya. 

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
"Sebab itu berlomba-lombalah kamu pada serba kebaikan." 

Jangan kamu berlarut-larut berpanjang-panjang bertengkar per kara peralihan kiblat. Kalau orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak mau me ngikuti kiblat kamu; biarkanlah. Sama-sama setialah pada kiblat masing -masing. Dalam agama tidak ada paksaan. Cuma berlombalah berbuat serba kebajikan, sama-sama beramal dan membuat jasa di dalam peri-kehidupan ini. 

أَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللهُ جَمِيْعًا
"Di mana saja kamu berada, niscaya akan dikumpulkan Allah kamu se kalian." 

Baikpun kamu dalam Yahudi, dalam Nasrani, dalam Shabi'in dan dalam iman kepada Muhammad s.a.w., berlombalah kamu berbuat berbagai kebajikan dalam dunia ini, meskipun kiblat tempat kamu menghadap shalat berlain-lain. Kalau kamu akan dipanggil menghadap kepada Aliah; tidak perduli apakah dia dalam kalangan Yahudi Nasrani, Islam dan lain-lain; berkiblat ke Ka bah atau ke Baitul Maqdis. Di sana pertanggung jawabkanlah amalan yang telah dikerjakan dalam dunia ini. Moga-moga dalam perlombaan berbuat kebajikan itu, terbukalah hidayat Tuhan kepada kamu, dan terhenti sedikit demi sedikit pengaruh hawanafsu dan kepentingan golongan; mana tahu, akhirnya kamu kembali juga kepada kebenaran; 

إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ 
"Sesungguhnya Allah atas tiap-tiap sesuatu adalah Maha Kuasa."(ujung ayat 148).

Perlombaan manusia berbuat baik di dunia ini beiumlah berhcnti. Segala sesuatu bisa kejadian. Kebenaran Tuhan makin lama makin nampak. Allah Maha Kuasa berbuat sekehendakNya:
Ayat ini adalah seruan merata; seruan damai dari lembah wahyu ke dalam masyarakat manusia berbagai agama. Bukan khusus kepada ummat Mu hammad saja.

Arti kata kata :

وَلِكُلٍّ
:Dan bagi tiap tiap umat
بِكُمُ اللّهُ
:Dengan/padamu Allah
وِجْهَةٌ
:Kiblat
جَمِيعاً
:Sekalian /semua
هُوَ
:Ia
إِنَّ اللّهَ
:Sesungguhnya Allah
مُوَلِّيهَا
:Menghadap kepadanya
عَلَى كُلِّ
:Atas segala
فَاسْتَبِقُوا
:Maka berlomba lombalah kamu
شَيْءٍ
:Sesuatu
الْخَيْرَاتِ
:Kebaikan
قَدِيرٌ
:Mahakuasa
أَيْنَ مَا
:Dimana saja


تَكُونُوا
:Kamu berada


يَأْتِ
:Mengumpulkan


Identifikasi Tajwid:

1.         Idgam bigunnah, yaitu huruf tanwin bertemu wau dalam bacaan  وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ
2.         Izhar halqi, yaitu huruf tanwin bertemu ha dalam bacaan  وِجْهَةٌ هُوَ
3.         Mad Tabi`i, yaitu sebelum huruf ya bersukun hurufnya berharakat kasrah dalam bacaan  مُوَلِّيهَا 
4.         Ikfa, yaitu huruf bertanwin bertemu huruf qaf dalam bacaan  جَمِيعاً إِنَّ اللّهَ
5.         Mad arid lisukun, yaitu mad yang ada sebelum tanda berhenti/waqaf pada bacaan  قَدِيرٌ

Kesimpulan :
Pada ayat sebelum ini kita telah mengatakan bahwa arah kiblat bukanlah perkara yang penting, karena di sepanjang sejarah, berbagai jenis agama memiliki kiblat-kiblat yang berbeda. Yang penting di sini adalah sikap pasrah kepada perintah Allah. Tolok ukurnya di sisi Allah adalah perbuatan baik yang setiap manusia harus berlomba-lomba dalam hal ini dan melompat dari dataran dialog dan omongan ke dunia praktis.
Kompetisi atau perlombaan adalah suatu perkara yang sejak dahulu manusia melakukannya, adakalanya dalam urusan oleh raga, dan sering kali juga dalam urusan ilmu pengetahuan. Sementara al-Quran tanpa menentukan perkara tertentu untuk kompetisi, menganjurkan apa saja yang melahirkan kebaikan untuk individu maupun sosial, hendaknya dijadikan perlombaan dan berupayalah agar anda mendahului orang-orang lain.
Namun untuk mengarahkan kompetisi ini agar bernuansa ilahi, segala perbuatan yang anda lakukan, maka pikirkan juga tentang hari pembalasan dan kiamat, karena balasan sejati anda akan diberikan pada hari itu.

(2.)

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ ﴿٣٢﴾

Surat Al-Fatir,35 :32
Artinya :

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.

Arti kata kata

ثُمَّ
:Kemudian
مُّقْتَصِدٌ
:Ada yang pertengahan
أَوْرَثْنَا
:Kami wariskan
سَابِقٌ
:Yang lebih dulu
الْكِتَابَ
:Kitab itu
بِالْخَيْرَاتِ
:Berbuat kebaikan
الَّذِينَ
:Yang
بِإِذْنِ اللَّهِ
:Dengan izin Allah
اصْطَفَيْنَا
:Kami pilih
ذَلِكَ هُوَ
:Yang demikian itu adalah
مِنْ عِبَادِنَا
:Diantara hamba hamba kami
الْفَضْلُ
:Karunia
فَمِنْهُمْ
:Lalu diantara mereka
الْكَبِيرُ
:Yang amat besar
ظَالِمٌ
:Menganiaya


لِّنَفْسِهِ
:Diri mereka sendiri


وَمِنْهُم
:Dan diantara mereka



Identifikasi Tajwid :

1.               Mim musyadah atau mim bertasydid pada bacaan  ثُمَّ
2.               Izhar yaitu huruf nun bersukun bertemu huruf `ain pada bacaan  مِنْ عِبَادِنَا
3.               idgam bilagunnah  yaitu huruf tanwin bertemu huruf lam pada bacaan  ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ
4.               idgam mimi yaitu huruf mim bersukun bertemu huruf mim pada bacaan وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ
5.               izhar syafawi yaitu huru mim bersukun bertemu huruf sin pada bacaan وَمِنْهُمْ سَابِقٌ
6.               iqlab yaitu tanwin bertemu huruf ba pada bacaan  سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ

Isi Kandungan :

Berdasarkan surat dan ayat di atas Ibnu Taimiyyah membagi manusia kedalam tiga derajat kedudukan manusia :

1.               Golongan Dholimun Linafsih, ialah golongan yang selalu mendholimi dan menganiaya diri sendiri. Mereka merupakan golongan yang durhaka kepada Allah SWT, dengan meninggalkan perintaNya dan mengerjakan Larangan laranganNya.
2.               Golongan Mukhtasid, ialah golongan dari kelompok manusia yang derajatnya berada pada pertengahan, bersifat cermat dan senantiasa berhati hati dengan melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan laranganNya.
3.               Golongan Sabiqun Bil Khairat, ialah golongan dari manusia yang senantiasa aktif dalam melakukan kebaikan. Golongan ini memiliki ruhiyyah yangtinggi dengan senantiasa melaksanakan yang wajib dan mengerjakan amalan amalan yang sunat. Hidupnya istiqomah dan menjauhi dari perkara perkara yang syubhat dan ragu ragu dalam kehidupan sehari hari.

Allah swt mewariskan kitab ( Al Quran ) kepada hamba hambanya yang terpilih untuk diamalkan dan dikerjakan apa yang diperintahkan dan dilarang dalam kitab tersebut. Dalam kenyataanya manusia memiliki berbagai ragam bentuk aktifitas untuk menerima dan mewarisi kitab yang telah Allah wariskan. Ada diantara mereka menanggapi kitab Allah dengan sungguh sungguh dan mengerjakanya dengan amal amal perbuatan baik karena mendapatkan ridho dan izin Allah, adapula yang menerima dengan seenaknya tanpa mau mengerjakan apalagi mentaati isi dan ajaran kitab Allah tersebut sehingga apa yang dilakukanya sesungguhnya seperti menganiaya diri sendiri. Karena manusia yang tidak mau beramal baik sesuai dengan kitab Allah sesungguhnya amal perbuatan itu akan kembali pada dirinya sendiri. Dan yang lebih banyak manusia itu ada di pertengahan yang terkadang taat namun dilain waktu manusia itu melanggar.

Kitab Allah ( Al-Quran ) merupakan satu pedoman hidup manusia baik untuk kebahagiaan di dunia maupun kebahagiaan hidup di akhirat. Agar manusia mampu meraih kedua hal tersebut maka manusia dituntut untuk mampu memahami, membaca, dan mengamalkan apa yang terkandung dalam kitab Allah tersebut. Orang Islam mempunyai kewajiban untuk mampu dan dapat membaca Al-quran dengan baik dan benar, memahami arti dan maknanya, serta mengamalkan apa yang ada didalamnya.

Sayid Sabiq dalam kitabnya telah membagi akhlak manusia kedalam tiga tingkatan :

1.               Nafsu Amarah, ialah nafsu manusia yang tingkatanya paling rendah dan sangat hina karena senantiasa mengutamakan desakan dan bisikan hawa nafsu yang merupakan godaan syaitan.
2.               Nafsu Lawwammah, ialah nafsu yang senantiasa menjaga amal manusia untuk berbuat salih dan berhati hati serta instropeksi terhadap kesalahan kesalahan apabila terperosok kedalam kemungkaran.
3.               Nafsu Muthmainah, ialah akhlak manusia yang paling tinggi derajatnya karena memiliki ruhani dan jiwa yang tenang, suci, dalam keadaan selalu melakukan kebaikan kebaikan dan beramal shalih.

Kesimpulan :
Dalam surat Al Fathit : 32 menjelaskan bahwa ummat muhammad telah dipilih oleh Allah untuk mewarisi kitab suci Al quran. namun pada ayat yang 32 justru Allah melontarkan kritik terhadap kondisi mereka dilapangan.
Umat muhammad yang bakal masuk surga dibagi menhajdi 3 golongan :
1. golongan masuk surga tanpa diproses hisab, karena masa hidupnya selalu kompetitif dalam berbakti dan berbuat kebajikan.
2. golongan masuk surga yang melalui proses hisab yang mudah dan cepat, karena pada masa hidupnya cukup kompetitif, tetapi masih suka meninggalkan yang sunah.
3. golongan masuk surga susulan. karena pada masa hidupnya tidak berjiwa kompetitif dalam berbakti dan berbuat kebajikan, di samping banyak melakukan kesalahan.



Bab 2. Ayat Al-quran : Surah Al-Isra,17 :26 -27,dan Al-Baqarah,2 :177

Al Qur’an surat Al-Isra’ ayat 26-27.
1.               Bacaan Lihat Al-Qur.an terjemahannya
(26) Dan Berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang ada dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghamburkan (hartamu) dengan boros.
(27) Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudaranya setan dan sesungguhnya setan itu sangat ingkar kepada tuhannya.”(QS Al Isra : 26-27)
2. Isi Kandungan
Pada ayat 26, dijelaskan bahwa selain berbakti, berkhidmat dan menampakkan kasih sayang, cinta, dan rahmat kepada kedua orang tua, kita pun hendaknya memberi bantuan kepada keluarga yang dekat karena mereka yang paling utama dan berhak untuk ditolong. Mereka patut mendapat bantuan hidup di tengah keluarga terdekat yang mampu karena pertalian darah. Mereka pasti ada yang hidup lebih berkecukupan dan ada yang kekurangan sehingga kita sebagai keluarga harus saling membantu.
Allah memerintahkan manusia untuk berbakti dan berbuat baik tidak hanya kepada orang tua saja, namun masih harus berbakti kepada tiga golongan yang lain, yaitu:
1.               kepada kaum kerabat
2.               kepada orang miskin
3.               kepada orang terlantar dalam perjalanan.
Pada ayat 27, Allah mengingatkan bahwa betapa buruknya sifat orang yang boros. Mereka dikatakan sebagai saudaranya setan. Orang yang boros bermakna orang yang membelanjakan hartanya dalam perkara yang tidak mengandung manfaat berarti. Ada sebuah hadis yang terkait dengan perbuatan mubazir (boros) ini, yakni yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar. Dia berkata bahwa rasulullah telah melintas di tempat Saad sedang mengambil wudu, kemudian rasulullah menegur Saad karena begitu boros. Lalu Saad menanyakan apakah di dlam wudu juga terdapat boros (mubazir)


Al Qur’an Surat Al Baqoroh ayat 177.

1.               Bacaan lihat Al-Qur,an terjemahannya.

Artinya:Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orangorang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Al-Baqoroh:177)
2. Isi Kandungannya
aTentang Kiblat dan Keimanan
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Qatadah menerangkan tentang kaum Yahudi yang menganggap bahwa yang baik itu shalat menghadap ke barat, sedang kaum Nashara mengarah ke timur, sehingga turunlah ayat tersebut di atas (S. 2: 177). 
(Diriwayatkan oleh Abdur-razzaq dari Ma’mar, yang bersumber dari Qatadah.Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abil ‘Aliyah.)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa turunnya ayat ini (S. 2: 177) sehubungan dengan pertanyaan seorang laki-laki yang ditujukan kepada Rasulullah SAW tentang “al-Bir” (kebaikan). Setelah turun ayat tersebut di atas (S. 2. 177) Rasulullah SAW memanggil kembali orang itu, dan dibacakannya ayat tersebut kepada orang tadi. Peristiwa itu terjadi sebelum diwajibkan shalat fardhu. Pada waktu itu apabila seseorang telah mengucapkan “Asyhadu alla ilaha illalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘Abduhu wa rasuluh”, kemudian meninggal di saat ia tetap iman, harapan besar ia mendapat kebaikan. Akan tetapi kaum Yahudi menganggap yang baik itu ialah apabila shalat mengarah ke barat, sedang kaum Nashara mengarah ke timur.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir yang bersumber dari Qatadah.)
Orang yahudi menganggap bahwa kiblat( tempat menghadap) itu ke barat sedangkan orang Nashrani menganggap kiblat( tempat menghadap) itu ke Timur. Maka Allah memberikan bimbingan bahwa menghadap kiblat adalah kepada apa diperintahkan oleh Allah, Maka tatkala Allah perintah menghadap Baitul maqdis ( Palestina) itulah kebajikan tetapi tatkala Allah perintahkan kiblat ke Masjidil Haram dan itu pulalah kebajikan karena kesana Allah perintahkan.Itulah yang dimaksud bahwa kebajikan itu berdasarkan Iman yang kepada Allah, Iman kepada Hari Akhir, Iman kepada kepada kitab-kitab Allah dan Iman kepada Para Nabi-nabi.
b. Kepedulian social
Kita diperintahkan oleh Allah untuk menyisihkan harta yang kita cintai itu, untuk diberikan kepada kaum kirabat, dan kepada para yatim piatu, dan orang-orang yang miskin dan orang-orang yang membutuhkan lainnya.
cBerbuat yang terpuji.
Ayat itu menjelaskan kepada kita supaya kita sabar, menepati janji, berlaku adil, berbuat baik dan sebagainya. Kebahagiaan itu adalah bila kita melaksanakan yang diridoi oleh yang maha pencipta.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar