Sabtu, 25 September 2010

Ummi Hasnah IPA9






 

BAB 1: berkompetisi dalam berbuat kebaikan

*       Kebaikan Berbuat baik adalah bagian dari tugas seorang muslim di dalam kehidupan ini, sebagaimana firman Allah:
*       "Hai orang-orang yang beriman, rukulah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabb-mu dan berbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan." (Al-Hajj:77)
*       Juga karena berbuat baik adalah unsur penting dari dakwah. Salah satu faktor yang menjadikan pemikiran kita disukai oleh orang adalah ketika kita melakukan amal shalih atau perbuatan baik kepada mereka. Sehingga dengan itu, kita bisa membuka hati mereka untuk mencintai kita, sekaligus membuka cakrawala berfikir mereka untuk memahami kita, termasuk juga akan membuka telinga mereka untuk mau mendengarkan kita.
*       Namun terkadang, sebagai manusia kita sering kendur semangat untuk melakukan kebajikan. Maka dari itu kita harus mengetahui tips-tips bagaimana caranya untuk meningkatkan semangat kita untuk berbuat kebajikan. Berikut adalah tips-tipsnya:

1. Ilmu
*       Yang dimaksud di sini adalah pengetahuan mengenai pintu-pintu kebaikan yang Allah perintahkan kepada setiap muslim. Pengetahuan mengenai berbagai macam amal kebaikan merupakan perkara yang urgen. Islam telah memberikan penjelasan yang cukup kepada setiap muslim mengenai hal tersebut. Dan Islam memerintahkan kepada para pemeluknya agar menuntut ilmu sebelum berkata dan berbuat.

2. Tidak Melupakan Ilmunya
*       Hendaknya kita  selalu  mengingat pengetahuannya tentang amal kebaikan di atas, supaya tidak lupa terhadapnya. Bencana ilmu adalah lupa, sedangkan lupa sendiri akan mengakibatkan timbulnya sikap meremehkan banyak amal kebaikan, sehingga pengaruh kebaikan itu melemah di dalam diri. Itulah sebabnya,Al-Quran selalu mengulang-ulang makna-makna kebaikan  dan menerangkan kepada kita bahwa apa yang terjadi pada bapak kita Adam 'alaihimussalam diantara penyebabnya adalah lupa. Allah berfirman:
"Sesungguhnya telah kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat." (Thaha:115)

3. Mengingat Pahala Berbuat Baik
*       Sadar dan ingat akan pahala yang akan diperoleh dari berbuat baik merupakan masalah penting dan perangkat inti untuk bisa bersegera kepada kebaikan. Ia merupakan obat paling mujarab untuk mengobati penyakit malas dan loyo. Misalnya ketika kita membaca hadits Nabi:
"Aku telah melihat seorang lelaki yang mondar mandir di surga karena sebatang pohon yang ia tebang karena terletak di jalan dan mengganggu manusia." (Muslim)
Sesungguhnya kesadaran dan ingatan tentang pahala yang akan diperoleh dari pahala perbuatan menyingkirkan gangguan di jalan ini akan menjadi sebuah pendorong untuk membiasakan diri melakukan ibadah seperti ini. Barangkali inilah rahasia dalam keterangan Nabi mengenai pahala sebagian  amal ibadah supaya bisa menghasilkan motivasi  dan pendorong untuk beramal.

4. Menghadiri Majelis Keimanan
*       Menghadiri pertemuan antar ikhwan dan majelis yang bernuansa keimanan sangatlah penting. memperbanyak berkumpul dengan orang-orang baik dan shalih merupakan sebab yang memotivasi untuk berbuat baik.sebagaimana juga, berjumpa dengan orang-orang shalih dan bermajelis dengan mereka akan mempermudah dalam membiasakan diri dalam berbagai ketaatan, akan mengingatkan seorang muslim akan rabb-nya, membangkitkan semangat untuk saling berlomba dalam kebaikan di antara para anggota majelis, dan menyibukkan hati dengn betikan-betikan yang baik. jadi seorang muslim akan merasa sedikit ketika ia sendirian dan akan merasa banyak ketika bertemu dengan teman-temannya yang shalih. maka bergaul dengan pribadi-pribadi yang baik akan membangkitkan semangat dan menggelorakan gairah dalam jiwa untuk memanfaatkan usia dalam rangka ketaatan kepada Allah.

5. Selalu Berlomba Dalam Kebaikan
*       Hendaklah kita memahami dan mengerti bahwa berlomba dalam kebaikan merupakan tuntutan syar'i dan perintah Allah. Allah berfirman:
"Maka berlombalah dalam kebaikan." (Al-Baqarah:148)

*       Ibnu Sa'di mengatakan,"Barangsiapa yang berlomba dalam kebaikan, berarti ia bersegera menuju Jannah di akhirat dan orang-orang yang berlomba-lomba dalam kebajikan merupakan orang yang paling tinggi derajatnya."

6. Mengunjungi Lembaga Dakwah
*       Mengunjungi lembaga-lembaga sosial dan organisasi-organisasi bantuan sangatlah penting untuk dilakukan sbagai sarana pemotivasi berbuat kebaikan. Jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi lembaga sosial kebaikan dan yayasan-yayasan dakwah yang Allah telah banyak memberikan manfaat darinya, dan membukakan pintu bagi setiap muslim untuk ikut beramal di jalan Allah serta berkhidmat untuk agama ini. Mengunjungi lembaga-lembaga sosial seperti ini akan memotivasi seorang muslim untuk mencintai kebaikan, mengamalkannya, dan berlomba-lomba di dalamnya.

7. Sadar pentingnya berbuat baik
*       Hendaklah kita menyadari bahwa berlomba dalam kebaikan adalah karakter orang-orang mukmin, dan sifat para malaikat yang didekatkan. Alah telah berfirman memuji sebagian Nabi-Nya:
"Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo'a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami." (Al-Anbiya:90)
Sebagaimana Allah juga bersumpah dengan malaikat, Dia berfirman:
"Dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat," (An-Naziat :4)
Mujahid berkata,"Itu adalah malaikat yang mendahului Adam dalam kebaikan dan amal shalih."
Maka kesadaran akan hal itu akan memberikan motivasi dan dorongan kepada seorang muslim untuk berbuat baik.

8. Meneladani sikap ulama salaf
*       Hendaklah kita mengenal sejauh mana para ulama salaf menyesal dan menangis karena melewatkan kesempatan berbuat baik. Rasulullah bersabda:
"Tidaklah penduduk surga merasa menyesal terhadap sesuatu pun, kecuali atas waktu yang lewat sementara mereka  tidak mengingat Allah di dalamnya." (Thabrani)

Wahai saudaraku muslim ... Sesungguhnya para penghuni surga kelak akan menyesal dan menyayangkan setiap kesempatan yang mereka miliki berlalu begitu saja, tanpa terisi dengan berbagai ketaatan kepada Allah. Dikisahkan, Sa'id bin Abdul Aziz At-Tanukhi apabila ketinggalan shalat berjamaah ia menangis, maka bagaimana dengan kita? Ibnu Mas'ud berkata," Tidaklah aku menyesal melebihi penyesalanku terhadap satu hari yang matahari tenggelam didalamnya, sementara umurku berkurang, sedangkan amalku tidak berkurang."

*       Jadi saudaraku, jika engkau mengerti bagaimana para salafush shalih merasa sayang akan kebaikan yang terlewatkan, maka engkau akan terdorong untuk berbuat baik dan tidak meremehkannya.

9. Sadar Bahwa Umur Ini Singkat
*       Perlu sekali ditanamkan kesadaran bahwa umur ini singkat dan nafas itu terhitung. Sehingga seorang muslim dengan begitu akan selalu membutuhkan keseriusan dan kesungguhan dalam berbuat baik untuk menggapai keinginannya. Oleh sebab itu, Rasulullah memerintahkan kita untuk bersegera dalam amal shalih:
"Bersegeralah beramal shalih sebelum tiba fitnah-fitnah seperti malam yang gelap gulita." (Muslim)
Beliau juga mengabarkan bahwa manusia pasti akan ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; dan perihal masa mudanya, untuk apa ia gunakan?

10. Membaca kitab-kitab Zuhud
*       Sangat penting sekali membaca kitab-kitab tentang zuhud dan fadhail 'amal (Keutamaan amal) Misalnya kitab Riyadh Ash-Shalihin karya Imam Nawawi, AT-Targhib wa At-Tarhib karya Al-Mundziri, dan kitab-kitab terpercaya dikalangan para ulama yang lain. Tidak diragukan lagi bahwa membaca buku-buku tersebut akan memberikan motivasi untuk beramal shalih dan bersegera menuju ke sana.

11. Sadar Pahala Penunjuk Kebaikan
*       Hendaknya kita mengerti bahwa orang yang menunjukkan kebaikan itu sama dengan pelakunya, juga bahwa berlomba dalam perbuatan baik itu akan mendapat pahala seperti orang yang mengikutinya. Di antara penyemangat bagi pribadi yang beriman adalah mengetahui pahala dan keutamaan orang yang menunjukkan kepada kebaikan. Nabi bersabda:
"Barangsiapa yang menunjukkan kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan yang melakukannya." (Muslim)
Hadits ini mengandung ajaran berbuat baik dan menunjukkan perbuatan baik kepada orang lain. Sebab, orang yang menjadi sebab dilaksanakannya perbuatan baik akan mendapat pahala dan ganjaran sama seperti orang yang melakukannya.

12. Mengunjungi Orang Shalih
*       Merupakan faktor penyemangat berbuat baik juga adalah mengadakan kunjungan, bermajelis, berteman, dan mencintai orang-orang baik serta meminta mereka agar mau mengunjungi dirinya dan mendoakannya. Faktor yang satu ini akan melahirkan banyak maslahat. Nabi bersabda:
"Barangsiapa mengunjungi orang sakit atau mengunjungi saudaranya (yang ia cintai) karena Allah, ia akan dipanggil oleh seorang penyeru dengan mengatakan,"Engkau adalah orang baik, langkahmu adalah langkah yang baik dan engkau telah mengambil jatah tempatmu di surga." (Tirmidzi)

13. Mencontoh Semangat Para Salaf
*       Yakni berusaha tahu bagaimana keseriusan para salafush shalih dslam hal berlomba pada perkara-perkara yang baik. Berlomba dan bersaing dalam kebaikan adalah sifat alamiah yang terdapat dalam diri para sahabat Nabi. Umar bin Khattab pernah bersaing dengan dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar berkata,"Demi Allah, tidaklah aku berlomba dengan Abu Bakar dalam kebaikan, melainkan aku menjumpai ia sudah mendahuluiku."

14. Berdoa kepada Allah
*       Yakni berdoa kepada Allah agar memudahkan dirinya melakukan kebaikan. Hidayah taufik untuk bisa berbuat baik adalah karunia Allah dan pemberian dari Dzat yang maha pengasih. Allah menganugerahkan-Nya kepada siapa saja dari para hamba-Nya yang Dia kehendaki. Oleh sebab itu , bersandarlah kepada Rabb-mu agar berkenan memberikan taufik, memudahkan diri kita berbuat baik dan bisa bergegas menuju kebaikan. Allah telah menjanjikan kepada kita bahwa Dia pasti akan mengabulkan permohonan itu. Allah berfirman:
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (Al-Baqarah:286)
Oleh karena itu, berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan.

15. Menumbuhkan Niat Berbuat Baik
*       Yakni selalu menumbuhkan niat berbuat baik dan menyibukkan hati dengannya. Sebab sebuah niat baik ketika menancap dengan rasa ikhlas dalam hati, akan menyampaikan seorang hamba kepada derajat paling tinggi. Jadi sekedar niat saja, akan menjadikan sebab agar bisa benar-benar beramal. Sebagian salaf mengatakan,"Raihlah niat untuk beramal sebelum beramal; kapan saja dirimi berniat melakukan kebaikan, berarti dirimu berada di atas kebaikan."

16. Sadar bahwa Nabi juga berdoa
*       Termasuk faktor penyemangat berbuat baik adalah mengethaui bahwa Nabi saja juga berdoa dan memohon kepada Allah agar bisa berbuat baik. Beliau pernah berdoa:
"Allahumma inni asaluka fi'la al-khairaati wa tarka al-munkaraati" (Tirmidzi)
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar bisa berbuat baik dan meninggalkan segala kemungkaran.

Sudah menjadi suatu hal yang maklum, bahwa Nabi tidak mungkin berdoa kecuali dengan sesuatu yang dicintai Allah. Kalau hal ini disadari, akan menjadikan dirinya semakin termotivasi untuk berbuat baik.

17. Membayangkan Nikmat di Surga
*       Mengingat surga, membayangkan kenikmatannya serta membayangkan apa yang Allah sediakan bagi orang-orang baik akan mempermudah di dalam melakukan dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Allah berfirman:
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,"(Ali-Imran:133)
Maka dari itu, wahai saudaraku tercinta, tidakkah engkau merasa rindu kepada surga? Sesungguhnya yang rindu kepada surga adalah orang-orang shalih.

18. Pelaku Kebaikan Dipuji
*       Hendaklah kita menyadari bahwa berbuat baik semasa hidup merupakan sebab datangnya pujian manusia kepada pelakunya ketika masih di dunia dan akan menumbuhkan rasa cinta kepada mereka kepadanya setelah meninggal dunia. Orang-orang beriman adalah para saksi Allah di muka bumi. Dari anas, ia berkata:
"Orang-orang melewati sebuah jenazah, lantas mereka memujinya. Nabi bersabda,"Pasti." Kemudian lewatlah jenazah yang lain kemudian mereka melontarkan kata-kata buruk kepadanya. Maka nabi bersabda,"Pasti."
Mendengar itu, Umar berkata,"Apa maksud Pasti?
Beliau menjawab,"Jenazah pertama, kalian memujinya dengan kebaikan, maka ia pasti masuk surga. Sementara yang kedua, kalian mengucapkan kejelekan kepadanya, maka ia pasti masuk neraka. Kalian adalah para saksi Allah di muka bumi." (Bukhari Muslim)
Sungguh beruntunglah  bagi mereka yang menyandang sifat kebaikan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

19. Pelaku kebaikan manusia terbaik
*       Seseorang mesti menyadari bahwa pelaku kebaikan itu  dengan usianya yang panjang  akan menjadi manusia terbaik disisi Allah. Orang mukmin yang berumur panjang  dan mengisinya dengan ketaatan adalah lebih baik  daripada yang umurnya singkat. Sebagaimana  sebuah hadits:
Seseorang berkata,"Siapakah manusia  terbaik itu? Belaiu menjawab,"Yang panjang usianya dan baik amalannya." Ia bertanya,"Lalu siapakah manusia terburuk itu?"  Beliau menjawab,"Orang yang panjang umurnya  namun buruk amal perbuatannya." (Tirmidzi)
Hal ini mengingat bahwa orang yang pertama tadi berusaha sekuat tenaga memanfaatkan waktu dalam usianya dalam kebaikan dan ketaatan.




20. Amal Sedikit Tapi Berkesinambungan
*       Hendaknya kita mengetahui bahwa kontinyuitas dalam beramal shalih meskipun sedikit, itu lebih dicintai Allah. Beramal shalih secara kontinyu meskipun sedikit itu termasuk amalan yang dicintai Allah. Rasul bersabda:"Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang kontinyu meskipun sedikit" (Bukhari)

*       “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al Abaqarah 148).

*       Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan fastabiqul khairat (bersegeralah dalam berbuat baik). Imam An Nawawi dalam kitabnya Riyadhush shalihiin meletakkan bab khusus dengan judul bab "bersegera dalam melakukan kebaikan, dan dorongan bagi orang-orang yang ingin berbuat baik agar segera melakukannya dengan penuh kesungguhan tanpa ragu sedikitpun". Berikut beberapa poin bagaimana Imam An Nawawi memahami ayat tersebut.

*       Pertama, bahwa melakukan kebaikan adalah hal yang tidak bisa ditunda, melainkan harus segera dikerjakan. Sebab kesempatan hidup sangat terbatas. Kematian bisa saja datang secara tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya. Karena itu semasih ada kehidupan, segeralah berbuat baik. Lebih dari itu bahwa kesempatan berbuat baik belum tentu setiap saat kita dapatkan. Karenanya begitu ada kesempatan untuk kebaikan, jangan ditunda-tunda lagi, tetapi segera dikerjakan. Karena itu Allah swt. dalam Al Qur’an selalu menggunakan istilah bersegeralah, seperti fastabiquu atau wa saari’uu yang maksudnya sama, bergegas dengan segera, jangan ditunda-tunda lagi untuk berbuat baik atau memohon ampunan Allah swt. Dalam hadist Rasulullah saw. Juga menggunakan istilah baadiruu maksudnya sama, tidak jauh dari bersegera dan bergegas.

*       Kedua, bahwa untuk berbuat baik hendaknya selalu saling mendorong dan saling tolong menolong. Kita harus membangun lingkungan yang baik. Lingkungan yang membuat kita terdorong untuk berbuat kebaikan. Dalam sebuah hadits yang menceritakan seorang pembunuh seratus orang lalu ia ingin bertaubat, disebutkan bahwa untuk mencapai tujuan taubat tersebut disyaratkan agar ia meninggalkan lingkungannya yang buruk. Sebab tidak sedikit memang seorang yang tadinya baik menjadi rusak karena lingkungan. Karena itu Imam An Nawawi menggunakan "al hatstsu" yang artinya saling mendukung dan memotivasi. Sebab dari lingkungan yang saling mendukung kebaikan akan tercipta kebiasaan berbuat baik secara istiqamah.

*       Ketiga, bahwa kesigapan melakukan kebaikan harus didukung dengan kesungguhan yang dalam. Imam An Nawawi mengatakan "bil jiddi min ghairi taraddud". Kalimat ini menunjukkan bahwa tidak mungkin kebaikan dicapai oleh seseorang yang setengah hati dalam mengerjakannya. Rasulullah SAW bersabda untuk mendorong segera beramal sebelum datangnya fitnah, di mana ketika fitnah itu tiba, seseorang tidak akan pernah bisa berbuat baik. Sebab boleh jadi pada saat itu seseorang dipagi harinya masih beriman, tetapi pada sore harinya tiba-tiba menjadi kafir. Atau sebaliknya pada sore harinya masih beriman tetapi pada pagi harinya tiba-tiba menjadi kafir.

*       Uqbah bin Harits RA pernah suatu hari bercerita: “Aku shalat Ashar di Madinah di belakang Rasulullah SAW, tiba-tiba selesai shalat Rasulullah segera keluar melangkahi barisan shaf para sahabat dan menuju kamar salah seorang istrinya. Para sahabat kaget melihat tergesa-gesanya Rasulullah. Lalu Rasulullah keluar, dan kaget ketika melihat para sahabatnya memandangnya penuh keheranan. Rasulullah SAW lalu bersabda, "Aku teringat ada sekeping emas dalam kamar, dan aku tidak suka kalau emas tersebut masih bersamaku. Maka aku segera perintahkan untuk dibagikan kepada yang berhak". (HR. Bukhari).

*       Melalui usaha maupun pekerjaan yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh, doa, sabar dan tawakal sebagai sandarannya serta selalu saling berkompetisi didalam berbuat kebaikan dsb, adalah satu kendaraan yang paling tepat dan efektif untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia dan kehidupan negeri akhirat yang abadi.



















BAB II: Iman kepada Rasul-Rasul Allah SWT
Orang Muslim beriman bahwa Allah SWT telah memilih di antara manusia sebagai rasul-rasul, mewahyukan syari'at-Nya kepada mereka, menyuruh mereka menyampaikannya sebagai hujjah bagi-Nya pada hari kiamat, mengutus mereka dengan keterangan-keterangan, mendukung mereka dengan mukjizat-mukjizat, dimulai dari Nabi Nuh a.s. dan ditutup dengan Nabi Muhammad saw.
Kendati kebiasaan-kebiasaan manusia juga terjadi pada rasul-rasul: makan, minum, sakit, sehat, lupa, ingat, mati, dan juga hidup. Namun, mereka makhluk yang paling sempurna secara mutlak, dan paling mulia tanpa pengecualian. Iman seorang hamba tidak sempurna, kecuali dengan mengimani mereka secara global atau detail, karena dalil-dalil wahyu dan dalil-dalil akal.
Dalil-Dalil Wahyu
  1. Penjelasan Allah Ta’ala tentang rasul-rasul-Nya, pengutusan mereka, dan risalah-risalah mereka dengan firman-firman-Nya, yang artinya seperti berikut:
    • “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan),’Sembahlah Allah dan jauhilah Thaghut.” (An-Nahl: 36).
    • “Allah memilih utusan-utusan dari malaikat dan dari manusia sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Al-Hajj: 75).
    • “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus,Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (An-Nisa’: 163-165).
    • “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (Al-Hadid: 25).
    • “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang’.” (Al-Anbiya’: 83).
    • “Dan Kami telah mengutus rasul-rasulsebelummu, melaikan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (Al-Furqan: 20).
    • “Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israel, tatkala Musa datang kepada mereka.” (Al-Isra’: 101).
    • “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa Putera Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh, agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih.” (Al-Ahzab: 7-8).
  2. Penjelasan Rasulullah saw. tentang diri beliau, dan saudara-saudaranya dari para nabi dan para rasul dengan sabda-sabdanya seperti berikut.
    • “Allah tidak mengutus seorang nabi pun, melaikan ia peringatkan kaumnya dari si buta sebelah yang pendusta, yaitu Al-Masih Ad-Dajjal.” (Diriwatarkan Al-Bukhari dan Muslim).
    • “Janganlah kalian saling melebihkan para nabi.”
    • Ketika Rasulullah saw. ditanya Abu Dzar r.a. tentang jumlah para nabi, dan para rasul, beliau bersabda, “Jumlah nabi ialah seratus dua puluh ribu, dan jumlah rasul ialah tiga ratus tiga belas.”
    • “Seandainya Musa atau Isa masih hidup, maka tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali mengikutiku.” (Diriwayatkan Abu Ya’la).
    • “Itulah Nabi Ibrahim.” Ini beliau ucapkan ketika beliau dipanggil 'hai manusia terbaik'. Beliau tawadhu’ kepada Nabi Ibrahim.
    • “Seorang hamba tidak layak berkata, ‘Sesungguhnya aku lebih baik dari pada Yunus bin Matta’.”
    • Penjelasan Rasulullah saw. tentang para rasul ketika mereka dipertemukan dengan beliau di Baitul Maqdis, dan beliau shalat sebagi imam bagi mereka, beliau bertemu di langit dengan Nabi Yahya, Nabi Isa, Nabi Yusuf, Nabi Idris, Nabi Harun, Nabi Musa, Nabi Ibrahim dan beliau menjelaskan tentang mereka, dan kondisi yang beliau saksikan dari mereka.
    • “Sesungguhnya Nabi Allah, Daud makan dari hasil kerja tangannya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).
  3. Keimanan miliaran kaum Muslimin, dan selain kaum muslimin dari Ahli Kitab Yahudi, dan Kristen kepada rasul-rasul Allah, dan pembenaran yang kuat terhadap risalah mereka, keyakinan mereka terhadap kesempurnaan mereka, dan pemilihan Allah terhadap mereka.
Dalil-Dalil Akal
  1. Rububiyah Allah Ta’ala, dan rahmat-Nya menghendaki pengutusan rasul-rasul dari-Nya kepada makhluk-Nya untuk mengenalkan mereka kepada Tuhan mereka, membimbing mereka kepada sesuatu yang menyempurnakan kemanusiaan mereka, kebahagiaan mereka di dunia dan kebahagiaan mereka di akhirat.
  2. Penciptaan Allah Ta’ala terhadap makhluk untuk menyembah-Nya seperti yang Dia firmankan, “Dan Aku telah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku,” (Adz-Dzariyat: 56) itu menghendaki pemilihan rasul-rasul, dan pengutusan mereka untuk mengajari manusia bagaimana cara mereka taat kepada-Nya, karena ibadah dan ketaatan adalah tugas pokok penciptaan mereka.
  3. Sesungguhnya pahala karena ketaatan, dan hukuman karena maksiat menghendaki pengiriman rasul-rasul dan pengutusan para nabi, agar di hari kiamat manusia tidak berkata,”Wahai Tuhan kami, kami tidak tahu cara ketaatan kepada-Mu hingga kami bisa taat kepada-Mu dengan benar, dan kami juga tidak mengetahui apa saja kemaksiatan kepada-Mu hingga kami bisa menjauhinya. Pada hari ini, Engkau tidak mempunyai kezhaliman. Oleh karena itu, jangan siksa kami.” Jika itu terjadi, maka manusia mempunyai alasan seperti itu. Jadi, ini menghendaki pengutusan para rasul untuk memutus argumen manusia seperti di atas. Allah berfirman, “(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (An-Nisa’: 165).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar