Sabtu, 25 September 2010

Ibnu Maulana

Bab 1
Ayat al Quran tentang perintah berkompetisi dalam kebaikan dan menyantuni kaum dhuafa
                Didalam al Quran kita dapat menjumpai surat al baqarah ayat 148, surat fathir ayat 32, surat al israa ayat 26-27, dan surat albaqarah ayat 177. Mengapa dengan ayat tersebut? Ada apa dengan ayat tersebut? Mari kita bahas bersama sama berkenaan dengan bab ini.
                Di dalam kehidupan sehari hari kita selalu dihadapi kompetisi dengan sesama manusia, maka dari itu ayat ini tepatnya surat al baqarah ayat 148 dan surat fatir ayat 32 menjelaskan bahwa manusia dimuka bumi ini memiliki kiblatnya masing masing dan manusia di dunia harus berlomba lomba dalam berbuat kebajikan. Berbuat kebajikan dalam arti manusia mengerjakan sesuatu yang diperintahkan agama baik perintah dari allah seperti salat, zakat, puasa, dan haji maupun perintah yang berhubungan dengan manusia seperti bersedekah dan perbuatan yang bermanfaat bagi orang lain tentunya dari hasil perbuatan tersebut akan mendapatkan pahala dari allah swt.
                Selanjutnya dijelaskan kembali oleh surat fatir bahwa allah menurunkan al quranb kepada hamba hamba yang terpilih yaitu umat islam. Memang sebelumnya allah menurunkan kitab suci seperti taurat, zabur, dan injil.tetapi itu hanya sebagai pelengkap dan penyempurna saja. Setelah al quran diturunkan, allah tidak menurunkan kitab suci lagi. Lalu allah membagi sikap 3 kelompok umat islam yaitu kelompok yang menganiaya dirinya sendiri, kelompok yang dipertengahan, dan kelompok yang lebih dahulu berbuat kebajikan.
                Selanjutnya pada surat al israa ayat 26-27 menjelaskan bahwa kita harus senantiasa menunaikan hak saudara muslim lainnya dan perintah untuk tidak berrlaku boros karena allah membenci perilaku boros. Kemudian pada surat al baqarah ayat 177 menjelaskan bahwa dahulu baitul maqdis merupakan kiblat umat muslim sebelum dipindahkan ke mekkah. Pada awealnya umat islam keberatan tetapi karena itu perintah langsung dari allah, lalu umat islam menaatinya.
Bab 2.
Iman kepada nabi dan rasul allah
Iman kepada rasul-rasul adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah telah mengutus para rasul untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya. Kebijaksanaan-Nya telah menetapkan bahwa Dia mengutus para rasul itu kepada manusia untuk memberi kabar gembira dan ancaman kepada mereka. Maka, wajib beriman kepada semua rasul secara ijmal sebagaimana wajib pula beriman secara tafshil kepada siapa di antara mereka yang disebut namanya oleh Allah, yaitu 25 diantara mereka yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Wajib pula beriman bahwa Allah telah mengutus rasul-rasul dan nabi-nabi selain mereka, yang jumlahnya tidak diketahui oleh selain Allah, dan tidak ada yang mengetahui nama-nama mereka selain Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Wajib pula beriman bahwa Muhammad shalalallahu alaihi wa salam adalah yang paling mulia dan penutup para nabi dan rasul, risalahnya meliputi bangsa jin dan manusia, serta tidak ada nabi setelahnya.
                Nabi secara istilah adalah seorang laki-laki merdeka di mana Allah mengabarkan syariat sebelumya kepadanya agar dia menyampaikan kepada orang-orang yang di sekitarnya dari kalangan pemilik syariat tersebut.  Dan Rasul secara bahasa adalah orang yang mengikuti berita orang yang mengutusnya Rasul secara istilah adalah laki-laki merdeka yang diutus oleh Allah dengan syariat dan Dia memerintahkannya untuk menyampaikannya kepada orang yang tidak mengetahui atau menyelisihinya dari kalangan orang-orang di mana dia diutus kepada mereka. Kenabian lebih umum karena semua rasul adalah nabi tetapi tidak semua nabi adalah rasul. Jadi orang yang bukan nabi bukan rasul, dengan kata lain, untuk bisa menjadi rasul dia harus menjadi nabi. Kenabian bukan derajat puncak yang bisa diraih dengan cara-cara dan latihan-latihan tertentu, manusia tidak mungkin mendapatkannya dengan usaha mereka karena ia bukan gelar yang mungkin diraih dengan jerih payah. Kenabian adalah derajat tinggi dan kedudukan mulia yang Allah berikan kepada orang yang Dia kehendaki. Orang yang Allah berkehendak memilihnya sebagai nabi telah disiapkan oleh Allah sedemikian rupa untuk memikul kenabian tersebut. Allah menjaganya dari setan dan melindunginya dari syirik serta menganugerahkan perilaku terpuji kepadanya.
Rasul membawa risalah kepada orang yang tidak mengetahui agama dan syariat Allah atau kepada orang-orang yang merubah syariat dan agama untuk mengajar mereka dan mengembalikan mereka kepadanya sedangkan Nabi saw diutus dengan dakwah syariat sebelumnya. Nabi dan rasul memikul tugas berat dan besar: menerima wahyu, melaksanakan dan menyampaikannya kepada umat, membimbing, dan memimpin umat, karena itu Allah memilih untuk tugas besar ini orang yang berasal dari nasab terbaik, akal sempurna, dan jiwa yang bersih di samping Dia membekalinya dengan akhlak-akhlak dan sifat-sifat yang luhur, maka seorang nabi dan rasul adalah teladan akhlak dan sifat bagi umatnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar